Review film animasi : COCO

Coco, saat pertama kali liat trailernya hal pertama yang terpintas adalah film “The Book of Live” tahun 2014. Film animasi tersebut juga menayangkan cerita tentang Hari Mengenang Orang Mati, latar tempat di mexico, bahkan animasinya pun mirip. Mungkin karena hal tersebut, saya tidak tergelitik untuk menontonnya.

Suatu hari, saat bersama dengan salah satu teman saya yang memang gemar nonton, mengajak untuk nonton bareng film coco. Tapi, karena bertepatan dengan janji yang sudah saya buat terlebih dulu dengan kawan yang lain, akhirnya saya tidak ikut. Setelah berpisah dengan dia dan bertemu kembali, salah satu pembahasannya saat itu adalah Coco. Dia bilang coco adalah salah satu film animasi terbaik, film yang sedih. Salah satu kawan yang lain juga bercerita kalau film coco sangat menyentuh, yang lainnya lagi bilang kalau film ini sangat recommended buat siapa saja. Kebanyakan kawan saya yg memberikan review adalah pria, dan mereka selalu mengatakan kalau film tersebut bikin mereka jadi mewek (hmm.. nah kan saya jadi penasaran). Akhirnya karena rasa ingin tahu yang membuncah ruah (hahahha ini saking penasarannya yaahhh) saya sempat cari tau ke om google, dan yup film coco masuk box office ngalahin Film Justice League bahkan pendapatannya jauh melampaui film super hero besutan Marvel itu.

Film dimulai dengan menayangkan film ekstra, dan ini sepertinya jadi hal baru yang sering kali dilakukan oleh rumah produksi Pixar. Contohnya dalam film Finding Dory, yang juga menayangkan film pembuka berdurasi sekitar 6 menit. Film pendek Olaf, dari Frozen, menjadi film pembuka Coco. Saya pribadi sangat menyukai film pendek tersebut karena banyak menayangkan tingkah laku konyol dan lucu dari Olaf. Film pembuka ini berdurasi sekitar 20 menit kurang lebih. Film Coco menampilkan sebuah keluarga dari meksiko yang karena sebuah peristiwa yang dialami oleh buyutnya, nenek imelda, keluarga ini menjadi sangat membenci musik dan menganggap hal tersebut adalah kutukan bagi mereka. Peristiwa itu juga yang mengajarkan sang buyut hingga akhirnya menjadi seniman pembuat sepatu. Tradisi membuat sepatu serta kebencian keluarga terhadap musik diajarkan secara turun temurun. Namun, salah satu cicit keturunan keluarga tersebut, miguel, yang menjadi tokoh utama dalam film ini, sangat menyukai musik. Dia sering belajar menyanyi dan bermain gitar diam-diam agar keluarga besarnya tidak mengetahuinya. Ernesto de la cruz, adalah musisi legendaris favoritnya. Film ini banyak menampilkan nyanyian dan musik yang indah. Suatu ketika, saat Hari Mengenang Orang Mati tiba, di kota tersebut diadakan kontes menyanyi, dan miguel ingin mencobanya, membuktikan diri, berusaha menentang tradisi keluarganya. Karena tidak memiliki gitar, miguel akhirnya ke tempat pemakaman Ernesto, penyanyi favoritnya, untuk meminjam gitar. Namun miguel terkena kutukan saat memainkan gitar tersebut dan terdampar dalam dunia orang mati. Meskipun bercerita tentang dunia orang mati, semua gambar tengkoraknya dibuat lucu dan berwarna, sehingga tidak menakutkan. Bahkan ada makhluk suci, alebrijas, hewan suci dari legenda meksiko yang digambarkan dengan berbagai macam bentuk yang lucu dan berwarna-warni neon.

Singkat cerita, miguel harus memulai petualangannya dalam dunia orang mati dengan bantuan keluarganya yang telah berpulang terlebih dulu, diantaranya ada nenek imelda, sang buyut. Di sini dimulai konflik antara memperjuangkan impian, menjaga tradisi, atau meninggalkan keluarga. Pixar mampu membuat perasaan penonton bercampur aduk. Dalam dunia orang mati ini juga kita disuguhkan tentang keberadaan kita setelah mati. Tentang bagaimana kita akan selalu ada selama masih ada orang yang mengingat kita. Puncak dari film ini adalah saat hector, kakek buyut miguel yang pergi meninggalkan keluarganya, berada dalam krisis. Hector akan lenyap saat orang terakhir yang mengingatnya, nenek coco, melupakannya. Bagaimana akhirnya? Akan lebih menyenangkan untuk menyaksikannya sendiri 😁

Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita keluarga Coco. Tentang kasih sayang keluarga, tradisi, kenangan, dan bagaimana saling menjaga satu sama lain. Film ini sangat layak untuk ditonton oleh semua orang, dari berbagai kalangan, terutama generasi milenial saat ini. Banyaknya konflik yang terjadi dalam keluarga dikarenakan perbedaan pendapat, pola pikir dan cara pandang. Namun, seberapapun besarnya perbedaan dan konflik yang terjadi, satu hal yang perlu kita yakini, bahwa keluarga akan selalu memberikan yang terbaik dan menjadi tempat kita pulang dalam kondisi apapun ☺️

Nah, buat teman-teman yang belum nonton, yukk ajak keluarga dan sahabat nonton bareng biar semuanya bisa belajar sambil bersenang-senang. Selamat menikmati πŸ˜‰πŸ˜

Iklan

5 pemikiran pada “Review film animasi : COCO

  1. Ping balik: Nothing to Lose : Memaknai Ketulusan - Sisi Lain Ica

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s